Dinamika Ekspor Lada Hitam Indonesia

[ad_1]

Lada hitam bukanlah rempah-rempahan yang asing lagi bagi masyarakat. Aromanya yang khas merupakan salah satu daya tarik dari rempah ini. Tak mengherankan, lada hitam sering ditemukan dalam resep-resep makanan baik tradisional maupun internasional.

Lada hitam sendiri sebenarnya tumbuh dari tanaman yang sama dengan lada putih. Perbedaannya terletak pada pengolahan pasca panen. Lada putih dipanen ketika buah benar-benar telah matang sehingga kulitnya pun masih segar. Sedangkan, lada hitam dipanen ketika buah lada hampir membusuk, yang kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari. Inilah yang menyebabkan warna kehitaman pada kulit lada.

Indonesia sendiri termasuk negara yang melakukan pembudidayaan buah lada. Hasil produksi cukup besar bahkan telah diekspor ke negara tetangga baik di Asia, Eropa maupun Amerika.

Dari tabel diatas, negara pengimpor terbesar lada hitam dari Indonesia adalah Vietnam sebanyak 5.600,9 ton pada tahun 2019. Berbeda dengan Vietnam, ekspor lada hitam di Amerika Serikat mengalami penurunan cukup drastis dari tahun 2018. Pada tahun 2017, ekspor dapat mencapai berat 4.497,1 ton namun ditahun 2018 turun menjadi 2.391,9 ton. Bahkan di tahun 2019, peningkatan hanya sebesar 107,1 ton.

Untuk India sendiri peningkatan dari tahun 2017 sampai 2019 cukup baik. Namun, untuk negara-negara selanjutnya seperti Perancis, Tiongkok, Jerman dan Belanda terjadi fluktuasi. Sedangkan di Singapura dan Italia, pengeksporan mengalami penurunan setiap tahunnya.

Pada tabel, ekspor lada hitam ke Singapura turun drastis dari 2.215,4 ton di tahun 2015 menjadi 592,9 ton saja di tahun 2016 dan terus menurun di tahun selanjutnya sampai akhirnya menjadi 98,9 ton saja di tahun 2019. Ekspor ke Italia pun mengalami fluktuasi dengan penurunan drastis pada tahun 2013 yang dimana total ekspor hanya 39 ton padahal di tahun 2012 ekspor lada mencapai 395 ton. Meskipun melonjak naik pada tahun 2016 dengan total 341 ton, di tahun-tahun selanjutnya ekspor lada terus mengalami penurunan.

Lada Hitam Indonesia

Daerah penghasil lada hitam terbesar di Indonesia berada di pulau Sumatera, yaitu di Provinsi Lampung. Lampung memang telah lama dikenal bahkan sejak zaman kerajaan-kerajaan nusantara masih berdiri sampai zaman kolonial sebagai salah satu penghasil lada terbesar tidak hanya di dalam Indonesia namun juga di dunia internasional, begitupun sampai sekarang.

Pada masa kejayaannya, produksi lada hitam Lampung dapat mencapai 30.000 ton per tahun. Tetapi pada saat ini produksi merosot hampir 50%. Rata-rata 15.00 ton saja yang terproduksi setiap tahunnya. Data tahun 2015 dari Ditjen Perkebunan (2017) luas lahan perkebunan lada di Lampung mencapai 45.863 dengan produksi mencapai 14.860 ton.

Kurang maksimalnya produksi lada hitam di Lampung diduga dipicu oleh beberapa faktor diantaranya; penggunaan bibit tidak unggul, serangan hama dan penyakit serta sistem budidaya lada yang tidak intensif menggunakan panjatan hidup yang umumnya tanaman ulang (replanting) di lahan marginal.

Belum lagi, pemerintah melakukan replanting atau peremajaan tanaman yang setidaknya membutuhkan 5 tahun untuk dapat memperlihatkan hasil. Sekarang, petani lada bergantung pada tanaman yang masih ada (existing) yang telah tua dan produktivitasnya rendah.

Produksi lada hitam memang tidak sepopuler lada putih. Belum lagi, pemerintah Bangka Belitung, daerah penghasil terbesar lada putih Indonesia, giat dalam mengusahakan peningkatan produktivitas setiapa tahunnya. Hendaknya memang produksi lada hitam mulai intensif diperhatikan.

Pasar Internasional

Data tahun 2017 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan produsen lada terbesar kedua di dunia setelah Vietnam. Sekitar 13% atau 70.000 ton yang disediakan Indonesia ke pasar internasional, baik itu lada putih maupun lada hitam. Namun begitu, Indonesia tidak dapat berdiam diri saja. Negara-negara tetangga seperti Tiongkok sudah mulai menggenjot peningkatan produksi lada setiap tahunnya. Apalagi Vietnam yang memang tingkat produktivitasnya semakin baik setiap tahunnya.

Bagaimana Kedepannya?

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada grafik diatas, secara visual terlihat bahwa dari tahun ke tahun ekspor lada hitam berfluktuasi cenderung menurun. Pada tahun 2012 total ekspor lada hitam mecapai 48.037,1 ton. Di tahun berikutnya, total ekspor menurun hampir 40% hingga mencapai sekitar 29.273 ton.

Begitupun di tahun 2014, total ekspor menjadi 16.802,2 ton dengan penurunan mencapai 13.000 ton. Namun, di tahun 2015 terjadi kenaikan sekitar 16.000 ton hingga mencapai 33.437,1 ton. Yang disayangkan di tahun-tahun selanjutnya total ekspor lada hitam terus mengalami penurunan.

Dari tahun 2016 dengan total ekspor 28.598,1 ton, tahun 2017 sebesar 15.827,5 ton, turun lagi di tahun 2018 menjadi 14.129,3 ton. Tetapi terjadi kenaikan sekitar 3.000 ton sehingga di tahun 2019 total ekspor lada hitam mencapai 17.415,1 ton.

Di tahun 2013, Vietnam telah menyalip posisi Indonesia hingga menjadi produsen terbesar pertama pemasok lada di pasar internasional.
Faktor dilapangan saat penanaman lada mempengaruhi produktivitas menghasilkan lada kualitas terbaik. Tidak hanya dari segi penanaman seperti bibit yang disediakan kurang unggul, hama dan penyakit yang menyerang tanaman, juga peremajaan tanaman yang belum bisa dipanen, dari segi permintaan masyarakat juga mempengaruhi.

Sekarang ini, hasil produksi perkebunan kopi dan kakao lebih menarik di pasaran baik domestik maupun internasional. Sehingga petani lebih memilih menggiatkan penanaman tanaman kebun yang lebih menarik seperti kopi dan kakao tadi.

Belum lagi harga pasar Internasional terhadap lada hitam yang tidak stabil dan juga menurun beberapa tahun terkahir menyebabkan kerugian pada petani lada hitam. Ketidakstabilan harga ini diduga dipicu oleh kelebihan suplai atau stok lada hitam dibanding dengan permintaan.

Meskipun begitu petani masih mempunyai harapan karena pada tahun 2020 harga lada hitam mulai meningkat dari sebelumnya. Di bulan Agustus 2020 harga mencapai 60.064 per kilogram. Diharapkan kedepannya harga lada akan terus naik.

Ditulis oleh : Olviea Rahmayanti

[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *