Inovasi Teknologi, Modal Kementan Dorong Lahirnya Petani Milenial

[ad_1]

Jumlah orang yang menekuni sektor pertanian di berbagai negara di dunia terus mengalami penurunan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pembangunan pertanian. Karena itu diperlukan peningkatan jumlah petani milenial untuk membangun ketahanan pangan nasional.

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Haris Syahbuddin mengatakan tantangan di sektor pertanian semakin besar seiring penambahan jumlah penduduk. Indonesia memiliki jumlah penduduk 267 juta jiwa yang membutuhkan ketersediaan sandang, pangan, dan papan secara berkelanjutan. Untuk itu dibutuhkan pengembangan teknologi dan sumberdaya baru untuk mengembangkan sektor pertanian.

“Petani milenial diharapkan lahir dari proses belajar mengajar di perguruan tinggi, baik melalui Kampus Merdeka Belajar dan program-program lainnya,” kata Haris saat menjadi pembicara mewakili Kepala Balitbangtan dalam Kuliah Tamu Mempersiapkan Petani Milenial yang digelar secara daring oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada Selasa (23/3/2021).

Menurut Haris, memasuki era Industri 4.0, masyarakat harus mulai memahami arti penting sistem digitalisasi. Persaingan yang ketat di tingkat global harus diimbangi dengan pola-pola pergerakan usaha baik itu usaha tani dan bisnis lainnya secara lebih efisien, lincah, dan produktif.

Pembangunan pertanian masa depan, lanjutnya, akan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi seperti internet of things (IoT), big data, artificial intellegence (AI), human-machine interface, robotic, sensor, dan lainnya.

Perkembangan ini menjadikan teknologi dan inovasinya sebagai modal utama dalam menarik generasi muda untuk menggeluti bidang pertanian, baik secara keilmuan ataupun praktek langsung di lapang.

“Karena itu era digitalisasi menjadi sangat penting. Pengetahuan kita terhadap digitalisasi, pemanfaatan big data dan lain-lain menjadi suatu keharusan yang harus dipenuhi. Saya yakin adik-adik milenial sudah tidak asing dengan hal ini,” tutur Haris.

Peran generasi milenial dalam pembangunan pertanian di era digital sangat penting. Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam berbagai kesempatan mengungkapkan bahwa generasi milenial merupakan tulang punggung bagi keberlanjutan pertanian. “Hadirnya generasi milienial di pertanian saat ini adalah kekuatan bagi ketahanan pangan.” ungkap Mentan.

Menteri Pertanian dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga telah melakukan penandatanganan kerjasama dukungan penerapan merdeka belajar, konsep kampus merdeka untuk menguatkan ketahanan pangan nasional.

“Saya ingin konsep ini diterapkan untuk mengejar ketertinggalan. Apalagi target saya adalah mencetak 2,5 juta petani yang tervokasikan di bidang pertanian. Sekali lagi saya menyambut baik merdeka belajar dan saya yakin kerjasama ini membawa berkah. Saya berharap dalam waktu yang tidak lama ada sesuatu yang bisa kita hasilkan,” ujar Mentan usai penandatanganan kerjasama, Rabu (3/3) yang lalu..

Pada kesempatan tersebut, Haris memaparkan bahwa dalam mendukung pembangunan pertanian, Balitbangtan telah melahirkan berbagai teknologi inovatif berupa varietas/galur unggul, teknologi budidaya, pascapanen, prototipe alat dan mesin pertanian (Alsintan), model pengembangan pertanian, rekomendasi kebijakan, serta benih tanaman dan bibit sumber ternak.

Balitbangtan dengan 65 satuan kerja, terangnya, bisa menjadi tempat bagi para mahasiswa untuk melakukan Program Kampus Merdeka Belajar dengan berbagai tematik teknologi. Balitbangtan juga memiliki kebun percobaan seluas 4 ribu hektare yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Balitbangtan didukung 169 laboratorium mulai dari lab nano teknologi, lab BSL3, lab tanah, lab flavor beras, lab uji alsintan, Lab molekuler dan genomic, Lab biokimia, dan lain-lain.

Balitbangtan telah melahirkan berbagai inovasi yang menarik bagi petani milenial seperti sistem irigasi berbasis Android, Kalender Tanam Terpadu, pengembangan ayam KUB, sistem hidroponik berbasis tenaga surya. Balitbangtan juga mengembangkan standing crop untuk memantau pertumbuhan padi di lahan.

Inovasi mekanisasi pertanian juga dikembangkan Balitbangtan seperti mesin tanam padi jajar legowo, mesin panen padi, mesin panen multi komoditas padi dan jagung, mesin pengolah tanah dan tanam, drone penebar benih, dan lain-lain. Inovasi lainnya teknologi unggulan pengelolaan tanah seperti perangkat uji tanah, perangkat uji pupuk, pengembangan pupuk hayati, pengembangan dekomposer, dan sebagainya.

Haris mengatakan, dalam mendukung lahirnya petani milenial, Balitbangtan bisa menjadi sarana tempat belajar dan kerja nyata bagi kaum intelektual mahasiswa melalui partisipasinya dalam program strategis Kementerian Pertanian seperti food estate, korporasi petani, P2L dan urban farming, maupun riset kolaborasi.

Selain itu, mahasiswa milenial bisa membantu dalam hilirisasi hasil riset dan inovasi dengan digital marketing, teknologi industri 4.0, dan komunikasi intensif dengan penyuluh dan petani. Kolaborasi triple helix antara Balitbangtan, Kampus Merdeka, maupun swasta akan menguatkan bisnis pertanian Indonesia dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia.

“Masa depan pangan dan pertanian dunia sesungguhnya ada di wilayah tropis. Ini peluang yang sangat tinggi untuk bisa dimanfaatkan petani milenial. Kami di Balitbangtan siap mendukung bagaimana mewujudkan adik-adik milenial menjadi pengusaha besar dan pemimpin besar. Hal ini selaras dengan slogan UMM, student today leader tomorrow,” pungkasnya.

[ad_2]

Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *